Senin, 29 Desember 2014

Untukmu, yang Cintanya Tak Dibalas dengan Sepadan

“Kita berbeda. Aku dan kamu saling mencinta, namun dengan takaran rasa yang tak sama.
Dalam-dalam aku mencerap cinta, sedangkan kau mencintaiku dengan kadar yang biasa.
Meski perasaan tak sepatutnya dipersalahkan, tidakkah kamu pernah merasa penasaran?
Membayangkan betapa tak enaknya jadi aku yang cintanya tak dibalas dengan sepadan?”

Untuk kamu yang berjuang demi berdamai dengan keadaan. Yang sedang berusaha mencintai pasangan dengan ketulusan, ketika cinta memang tak pernah lunas menawarkan keadilan…


Cinta tak bekerja dengan adil layaknya wasit pertandingan. Saat kamu mencintainya dalam-dalam, dia bahkan tidak mengasihimu dalam takaran yang sepadan

cinta dengan kadar yang berbeda
cinta dengan kadar yang berbeda via dbestman.wordpress.com
Keliru memang, jika kita memilih menghamba pada cinta. Selain tak memberikan kepastian, cinta pun tak pernah lunas menjanjikan keadilan. Ya, cinta memang tak bisa diibaratkan hakim di pengadilan atau wasit dalam pertandingan olahraga. Cinta bekerja dengan cara-cara yang tak biasa – yang terkadang tak bisa diterima akal sehat manusia.
Kamu yang sudah mencurahkan semua perasaanmu untuknya, justru harus lapang dada dan menerima ketika dia memilih menanggapi dengan biasa. Tapi, lihatlah bayangan dirimu sendiri dalam kaca. Adakah kamu merasa tak terima atau tak rela? Bukankah kamu sudah bertahan sekian lama dan tak sekalipun berniat meninggalkan dia meski cintamu tak dibalas serupa?


Selama ini, kamu jadi pejuang dengan tekad baja. Kamu rela memberikan segala yang kamu miliki hanya untuk dia

berusaha mencukupkan kebutuhannya
berusaha mencukupkan kebutuhannya via ceritasuperstar.blogspot.com
Bagimu, segala kebutuhan dia adalah prioritas utamamu sebagai pendampingnya. Saat dirinya bisa tercukupi dan tak kekurangan, kamu akan merasa puas dan senang. Apapun yang kamu miliki, entah itu waktu, tenaga, pikiran, perasaan, kasih sayang, dan cinta – semua bisa dengan ikhlas kamu berikan untuknya.
Kamulah yang tak bosan-bosan mendengarkan dia berkeluh kesah perihal pekerjaannya. Kamu pula yang selalu berusaha memberikan saran dan masukan yang bisa membuatnya merasa lebih tenang. Di tengah rutinitas pekerjaan, kamu juga yang selalu bisa diandalkan untuk mengingatkannya istirahat, minum air putih dan tak lupa makan. Segala pengorbananmu memang boleh dibilang luar biasa, dan yang kamu lakukan terasa sangat masuk akal selama inginmu adalah membantunya mengatasi kesulitan dan memastikan dia baik-baik saja.


Barangkali ini karena cinta. Meski lebih sering berseberangan atau berbeda, segala perilaku dan jalan pikirannya akan tetap bisa kamu terima

berusaha memahami perbedaan
berusaha memahami perbedaan via tkyphoto.blogspot.com
Kalian adalah dua individu yang berbeda dengan sedikit kesamaan dan lebih banyak perbedaan. Meski dunia kalian sedikit beririsan, lebih banyak hal yang nyatanya harus dikompromikan. Dia punya hobi membaca komik dan bermain game, sedangkan kamu hampir-hampir “buta” tentang keduanya.
Namun, adakah kebahagiaan yang melampaui momen-momen saat mendengarkan dia bercerita? Ya, kamulah yang akan ikut bahagia saat dia berhasil menuntaskan game terbarunya. Kamu pun tak keberatan saat menemani dia berkeliling toko buku demi menemukan komik kesukaaannya. Kamu ikhlas menerima dan mencoba memahami semua tentang dia dan dunianya.


Saat kalian sedang berjauhan, tak pernah sedetik pun dirinya hilang dari ingatan atau tak kamu cemaskan

jadi yang selalu kamu pikirkan dan cemaskan
jadi yang selalu kamu pikirkan dan cemaskan via wendy-in-neverland.deviantart.com
Dia mungkin bisa dengan ringan tak memberimu kabar. Padahal, tak sedetik waktu pun yang kamu lewatkan tanpa menunggui SMS atau telepon darinya. Kamu penasaran atau bahkan mencemaskan dirinya. Sedang apa, dengan siapa, apakah baik-baik saja; berbagai pertanyaan yang membuatmu merasa tak tenang. Kadang, di tengah kegalauanmu menunggu kabar darinya, kamu akan bertanya pada diri sendiri;
“Adakah dia pernah merasakan kecemasan yang sama? Apakah cuma aku yang memikirkan dia dengan sedemikian hebatnya? Bukankah sebagai pasangan, aku pun berhak mendapat perhatian darinya?”


Bagimu, dia adalah masa depan yang harus diperjuangkan. Tapi menurut dia, kamu hanyalah sepenggal cerita perjalanan cintanya atau sekadar persinggahan

bagimu, dialah masa depan yang harus diperjuangkan
bagimu, dialah masa depan yang harus diperjuangkan via www.anshumm.com
Bisa berdampingan dengannya adalah kebahagiaan luar biasa yang kamu rasakan. Kamu berharap hubungan dengan dia bisa bertahan selamanya. Kamu menginginkan dia bisa jadi bagian dari kehidupanmu di masa depan. Berharap dia yang jadi pendamping sejati hingga kalian melewati momen pernikahan dan menua bersama nanti.
Sayangnya, dia tak menumpuk harapan yang sama denganmu. Baginya, kamu hanyalah bagian dari kisah perjalanan cintanya. Bicara perkara masa depan hubungan kalian tak pernah membuatnya bersemangat. Dia tahu kelak akan ada saat dimana kalian akan harus berpisah dan mengakhiri hubungan yang saat ini dijalani.


Merasakan cinta yang lebih berat di salah satu sisi, kamu pun mulai menata hati. Belajar untuk lebih tahu diri agar kelak tak terlalu sakit hati

menata hati agar kelak tak sakit hati
menata hati agar kelak tak sakit hati via favim.com
Seiring waktu berjalan, kamu pun menyadari ketimpangan dalam hubungan kalian. Kamu berusaha memahami posisimu sebagai pihak yang mencintai lebih dalam dan lebih sering diabaikan. Akibatnya, perlahan kamu pun mulai berusaha menata hati. Berjaga-jaga agar kelak tak terlalu sakit hati jika pasangan akhirnya memilih pergi.
Bahkan, saat pasangan memberimu kejutan atau melakukan sesuatu yang membuatmu senang, kamu akan baik-baik meredam hatimu. Kamu tak mau terlalu terbuai dan berbahagia, kamu sadar bahwa kebahagiaanmu hanyalah semu yang kelak akan berganti kesedihan lagi.


Kamu sadar, perasaan memang tak bisa dipaksakan dan sudah sepatutnya cinta itu membebaskan

cinta tak bisa dipaksakan
cinta tak bisa dipaksakan via www.cinedor.es
Terkadang, ingin sekali mengutuki diri sendiri, menyalahkan pasangan atau bahkan keadaan. Bagaimana pun pengalaman mencintai lebih dalam memang lebih sering terasa menyakitkan. Membuatmu lebih sering mengorbankan perasaan daripada merasakan kebahagiaan dalam hubungan.
Namun, kedewasaanlah yang akhirnya menuntunmu untuk bersabar. Kamu mengerti bahwa perkara perasaan memang tak bisa dipaksakan. Pasangan tak harus memberikan cinta dan kasih sayang yang sama besarnya dengan yang kamu berikan. Bahkan, dirimu sendiri pun tak selayaknya minta dikasihani atau merasa jadi pihak yang tersakiti. Karena rasa cinta yang sebenar-benarnya adalah perasaan yang justru membebaskan dan tidak membebani.


Pengalaman jadi pihak yang mencintai lebih dalam justru membuatmu sadar bahwa perasaan cinta yang sebaik-baiknya haruslah didasari ketulusan

perasaan cinta harus tulus
perasaan cinta harus tulus via bridalmusings.com
Setalah menyadari posisimu jadi pihak yang mencintai lebih dalam, entah kamu akan memilih putus atau bertahan. Tapi setidaknya, pengalaman ini memberikan pelajaran cinta yang teramat penting dan berharga. Bahwa perasaan cinta yang sebenar-benarnya haruslah didasari ketulusan.
Saat kamu bisa mencintai tanpa mengaharap balasan yang sepadan. Ketika kamu berusaha memberikan yang terbaik untuk pasanganmu tanpa minta dibalas penghargaan yang setimpal. Meski jadi pihak yang mencintai lebih dalam terkesan sangat menyakitkan, kamu tetap bisa mensyukuri segala perasaan yang kamu rasakan.

Untuk kamu yang pernah atau sedang merasakan pengalaman cinta ini, semoga banyak kebaikan yang bisa kamu dapatkan. Cinta memang tak selalu manis dirasa, tapi semoga setiap harinya kehidupan cintamu semakin bahagia.

Minggu, 05 Oktober 2014

Kalau Udah Punya Pacar, Terus Apa?

Selama menyandang status jomlo, ada sebagian orang kerjaannya ngeluuuuh mulu, pengin punya pacar. Seolah-olah hidupnya penuh kesialan karena jomlo. Malam Minggu sendiri, ngeluh. Makan sendirian, ngeluh. Pergi ke mana-mana sendiri, ngeluh. Ditanya sama malaikat di liang kubur sendiri, juga ngeluh.


Selain karena rasa iri ngeliat enaknya orang pacaran, itu mungkin juga karena stigma. Di mana orang yang menyandang status jomlo dianggap hina. Saking nggak mau dianggap hina, ya mati-matian deh nyari pacar.

Nah, salah satu cara yang paling banyak diterapin secara nggak sadar oleh anak muda zaman sekarang adalah dengan melakukan teknik ‘perkuat pusat, perbanyak cabang’.

Oknum jomlo ini biasanya jatuh cinta sama orang yang nggak bisa dimiliki (entah karena dianya gak suka, udah punya pacar, atau mantan yang nggak mau diajak balikan), tapi fokus dekat ke banyak orang dengan tujuan dapet pacar.


Jomlo ini gelisah dengan kesendiriannya, nggak betah, nggak mau dianggap hina dan nggak laku. Mindset-nya. “Gue harus punya pacar, gimana pun caranya.”


Oke, well, kalo udah punya pacar, terus apa? Pencapaian yang kamu idam-idamkan dan diharapkan udah terwujud tuh. Udah segitu doang?

Sekarang mari kita tanya pada diri sendiri, apa lagi yang harus dicapai atau dilakukan setelah punya pacar?

Perlu kamu tau, nggak semua hubungan pacaran itu enak dan mudah seperti kelihatannya. Kalo kita liat dari tujuannya, pengin punya pacar hanya untuk senang-senang? Silakan nggak ada yang ngelarang. Pengin punya pacar untuk diajak berbagi? Carilah orangnya. Atau pengin punya pacar untuk bersama menata masa depan? Semoga kamu menemukan orang yang tepat.

Banyak orang yang pacaran pun malah mengeluhkan hubungannya karena ada masalah yang mungkin nggak pernah diperlihatkan. Mulai dari pacarnya yang suka ngambek dan marah-marah, yang sibuk dan nggak punya waktu buat ketemu, yang ganjen dan suka selingkuh, dan yang paling pelik; nggak dapet restu dari orang tua.



Sebetulnya, saat jomlo itu adalah waktu yang tepat untuk kita memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, bukan buat ngeluh dan ngerasa terzolomi. Kamu yang tadinya dicengin jelek, ya rawat diri supaya cakep. Kamu yang tadinya nganggur, ya cari kerja dan uangnya ditabung. Kamu yang tadinya nggak punya apa-apa yang bisa dibanggain, ya cobalah untuk meniti pelan-pelan hingga punya apa yang kamu inginkan, terutama dalam bentuk karya dan prestasi. Semoga kita semua sedang melakukan itu.

Semua yang kamu lakuin itu nggak percuma, justru berguna banget jadi modal lebih untuk dapetin pacar yang lebih baik. Siapa yang nggak pengin coba punya pacar yang kece tampang dan isi dompetnya? Nggak ada…

Dengan begitu, apabila kamu pengin punya pacar hanya berlandaskan ambisi ‘kepengin’ dan kegelisahan ‘nggak mau jomlo’ aja, ya hubungan kamu nantinya nggak akan memberikan apa-apa selain masalah yang –siap nggak siap– seharusnya nggak kamu alamin. Pacaran yang berlandaskan dua hati yang saling mencintailah yang sebenar-benarnya hubungan. Pacaran yang mempunyai komitmenlah yang menjadi pondasi kebersamaan. Pacaran yang mempunyai status yang jelaslah yang seharusnya diciptakan.

Sebuah hubungan tercipta dari dua hati yang saling menemukan, saling mengakui, dan saling mencintai.

Awkay, jadi kamu sendiri kalo udah punya pacar, lalu apa lagi? Yuk kita tukar pikiran tentang hubungan yang pengin kamu punya. Kanda siap pasang mata dan telinga untuk menyimaknya.

Pahit-Manisnya Pacaran Sama Orang yang Jauh Lebih Muda

Sebagian dari kamu mungkin pernah menjalani hubungan dengan seseorang yang umurnya terpaut jauh. Cinta memang tidak mengenal usia. Ia bisa datang pada sepasang manusia yang punya jarak umur yang jauh berbeda.
Sama seperti pacaran dengan pasangan yang sebaya, pacaran dengan orang yang jauh lebih muda (atau lebih tua) tentu ada suka dukanya. Sebagian mungkin sama dengan yang dialami pasangan sebaya, tapi ada juga pengalaman yang sama sekali berbeda jika kekasihmu jauh lebih muda. Kali ini, saya akan mencoba membagikan gimana suka dukanya punya pacar yang jauh lebih muda.


1. Pacaran dengannya itu terasa seperti bernostalgia.

Pacaran sama dia itu seperti nostalgia
Pacaran sama dia itu seperti nostalgia via toguturnip.wordpress.com
Ya, kencan dengannya itu kayak balik lagi ke masa muda SMA dengan segala kisah-kasihnya. Kalo pas lagi gak kuliah, kamu rela jemput dia ke sekolah. Ya, itung-itung mejeng. Hehehe. Kamu juga sering membandingkan SMA zamanmu dengan SMA zaman pacarmu.


2. Agendamu dengannya: nonton pensi atau nonton pertandingan basket tingkat SMA.

Diajak jadi suporter tim basket SMA-nya
Diajak jadi suporter tim basket SMA-nya via twitter.com
Iya, soalnya dia tampil di pensi atau ikut pertandingan olah raga mewakili sekolah. Kamu dengan senang hati menyemangati dia dari depan panggung atau pinggir lapangan. Pun kalo dia gak ikut keduanya, kamu tetap senang karena bisa menemaninya men-support teman-temannya.


3. Mulanya, orang tuanya memandangmu curiga.

Awalnya mereka begini...
Awalnya mereka begini… via giphy.com
Mungkin dalam pikirannya:
“Hmm, ngapain nih cowok deketin anak gue? Gak sadar apa kalau dia lebih cocok jadi oom-nya?”


4. Tapi, kamu ternyata cepat akrab sama mereka.

Malah jadi seperti ini.
…lalu malah jadi seperti ini. via giphy.com
Mereka akhirnya welcome sama kamu, setelah tahu ternyata kamu nyambung sama mereka. Ya gimana, orang saya seumuran udah cukup dewasa kok.


5. Kamu harus sudi digodain sama teman-temanmu.

Cieeh pacaran sama kimcil
“Cieeh pacaran sama kimcil!” via Kimcil
Teman-temanmu bakal godain kamu gara-gara pacarnya jauh lebih muda.
Teman A: “Ciyeee, pacaran sama kimc*il!”
Teman B: “Wah, dapet daun muda nih.”
Kamu: “Iya, kenapa? Ngiri ya gara-gara kalian masih jomblo?”
#emangnyaenakdiskakmat?


6. Juga, terima nasib dipanggil “Om” atau “Mbah” sama sahabatnya pacarmu.

Emangnya tampang gue kayak gini?
Emangnya tampang gue kayak gini? via www.jpnn.com
Selain kencan sama cewekmu, kamu juga bakal sering hang out bareng sahabat-sahabatnya cewekmu. Dan dengan semena-mena mereka manggil kamu ‘Om’ atau ‘Mbah.’ Duh, dek!


7. Tapi, teman-temannya yang lain bakal segan sama kamu.

Mereka bersikap sopan sama kamu.
Mereka bersikap sopan sama kamu.
Sebagai orang yang paling tua di situ, teman-teman cewekmu bersikap sopan sama kamu saat kalian lagi nonton pensi atau pertandingan olah raga. Mereka menyapa, “Hai, Kak!” atau sekadar senyum. Kamu sih stay cool, meski dalam hatimu: “MWA-HA-HA-HA-HA!”
(Padahal lebih banyak yang mengira kamu omnya.)


8. Tak jarang, kamu harus berhadapan dengan sikap alay pacarmu.

Alay sih, tapi manis kok.
Alay sih, tapi manis kok.
Alay itu salah satu proses menuju kedewasaan. Sayangnya, cewekmu itu masih berada di tahap alay, meski gak begitu akut sih. Dia me-request status married di Facebook, merayakan anniversary tiap bulan, atau memanggilmu dengan panggilan ‘papa’, ‘ayah’, atau semacamnya.
Alay sih, tapi bagimu kadang tingkah lakunya itu sweet juga….


9. Kamu juga butuh usaha ekstra untuk meladeni kemanjaannya.

Kadang manjanya dia melebihi ekspektasimu.
Kadang manjanya dia melebihi ekspektasimu. via RamSorayaFilm
Ya, karena kamu jauh lebih tua darinya, terkadang dia jadi manja banget ke kamu. Mulai dari minta temenin ke salon, beli buku, maupun sekadar minta beliin es krim. Kalo gak dituruti, dia bakal ngambek berhari-hari. Kamu sampai kewalahan sendiri pas dia lagi manja-manjanya ke kamu.


10. Kamu bisa dengan mudah memahaminya, tapi tidak sebaliknya.

Dia gak mau tahu
Dia gak mau tahu via giphy.com
Kadang dia gak bisa memahami keadaanmu atau keperluanmu. Misalnya, dia marah-marah saat kamu nongkrong sampai larut sama teman-temanmu setelah penat kuliah, karena dia sendiri gak pernah nongkrong sampai malam. Padahal kamu juga butuh refreshing dan banyak kegiatan yang dilakukan sampai larut malam.
Kamu pun cuma bisa menghela napas.


11. Makanya, sesekali kamu mesti men-downgradepola pikirmu.

aaaa
sesekali men-downgrade pola pikirmu. via itiswrittenforyou.files.wordpress.com
Kadang, cewekmu jadi labil emosinya. Pengennya dimengerti tapi gak mau mengerti kamu. Dia jadi cemburuan dan gampang kesal. Akhirnya kamu yang mengalah dengan berusaha menempatkan dirimu pada pola pikirnya.


12.  Tapi, karena kamu, dia jadi pribadi yang lebih dewasa dibanding anak-anak seumurannya.

DIa lebih dewasa dari gadis seumurannya.
DIa lebih dewasa dari gadis seumurannya. via www.booksie.com
Kamu dan dia telah mengelaborasi pola pikir masing-masing agar dapat saling menyesuaikan. Selain kamu yang berusaha menyesuaikan dengan pola pikirnya, dia pun berusaha mengimbangi pola pikirmu yang jauh lebih dewasa dan berpengalaman. Makanya, dia jadi pribadi yang lebih dewasa dibanding teman-teman sebayanya.


13. Tapi karena dia juga, kamu belajar untuk jadi pribadi yang lebih bijak

Kamu jadi orang yang lebih bijak
Kamu jadi orang yang lebih bijak via pbs.twimg.com
Menghadapi naik dan turunnya emosi pasanganmu secara tidak sadar membentukmu jadi orang yang jauh lebih bijak. Kamu tidak lagi menggebu-gebu, tidak lagi egois dan memaksakan kehendakmu. Kamu sadar bahwa rasa saling mengerti adalah kunci utama bagi hubungan yang berhasil.


14. Yang seru adalah pengalamanmu mendampinginya lulus SMA dan masuk perguruan tinggi.

Mendampinginya lulus SMA
Mendampinginya lulus SMA via twicsy.com
Mulai dari menemaninya belajar untuk ujian nasional, memeluknya saat pengumuman kelulusan, sampai mendampinginya di wisuda SMA. Kamu juga ikutan sibuk saat dia bingung memilih masuk universitas dan jurusan yang mana. Saat ospek pun, kamu dibuat repot demi membantunya mendapatkan perlengkapan ospek yang aneh-aneh. Berasa punya anak, deh.


15. Setelah dia kuliah, jarak usia kalian gak terasa lagi.

Dia lebih mandiri
Dia lebih mandiri via www.huffingtonpost.com
Kini dia menjadi wanita yang jauh lebih matang dibanding saat kamu mengenalnya dulu. Yang kamu gandeng kini bukan lagi gadis kecil manja yang dulu. Seiring dengan lingkungan pergaulannya yang naik tingkat, pola pikirnya pun berkembang. Kini dia lebih mandiri dan jauh lebih pengertian padamu.


16. Tapi, sampai kapanpun, dia tetap gadis manjamu yang dulu.

Dia tetap gadis kecilmu selamanya
Dia tetap gadis kecilmu selamanya via llayoung.blogspot.com
Meskipun dia lebih matang sekarang, bagimu dia tetap gadis manjamu yang dulu.

Pacaran dengan gadis yang usianya jauh lebih muda emang punya tantangan tersendiri sih. Tapi, kamu tetap merasa beruntung kok, bisa mendampinginya di masa-masa transisi hidupnya dari remaja menjadi dewasa.

Selasa, 16 September 2014

Saat Kita Terlampau Letih dan Terlalu Batuk Untuk Bercinta


Demi malam saat kita berbagi selimut berdua, terlampau letih dan terlalu batuk untuk bercinta

Aku merengek manja minta dipeluk semalaman. Satu kali itu saja, kau mengiyakan tanpa banyak suara. Kau biarkan aku mengakuisisi lengan atasmu, telapak tanganmu beristirahat di pinggulku. Kita seperti dua belut raksasa saling membelit, tak membiarkan satu sama lain terbawa arus yang kian sengit.
Demi malam saat kita hanya ingin tidur saja
Demi malam saat kita hanya ingin tidur saja via 8tracks.com
Sorongan pipi kanan, kiri dan dahimu tamat terkecup pelan. Kukhidmati gulir vena di dadamu, kau hapalkan garis bibirku. Aku sendu tapi bahagia, malam itu.
Sesekali tanganku menjangkau punggungmu. Berusaha meredakan rejan batuk dengan usap ringan jemariku. Tentu saja aksi itu tak sebanding dengan cairan anti ekspektoran yang berdiri manis di ujung kamarmu, menunggu dihabiskan dalam satu kali tenggak. Tapi dari dulu kau selalu benci obat. Alasan klasikmu:
“Obat hanya untuk orang yang lemah”
Oh Sayang, begitu merasa kuatkah dirimu? Keberatankah dirimu jika tak nyaman tidur karena rasa gatal yang mendera tenggorokanmu?
Kau tundukkan kepala, seperti radar yang hendak mencari wajahku. Dengan muka sedikit malas kuangkat wajah, tanggap menyambut bibirmu. Tak terduga kau hanya menggeleng pelan. Malam memang sudah terlalu tua untuk kita melepas tanda cinta. Ada tanggung jawab besar yang menunggu esok harinya. Lebih baik malam ini kita pejamkan mata.

Demi malam saat kau bertanya, “Bagaimana jika dia?”

"Bagaimana jika dia?"
“Bagaimana jika dia?” via anikalondon.com
Sayang, sudah berapa banyak nama panggilan yang kusematkan padamu? Sudah berapa banyak kau hapal kecerobohanku? Sudah cukup dalamkah kita saling tahu riak hati tanpa perlu bertemu? Rasa-rasanya sudah enggan kucerna pilu bersamamu. Hatiku tahu, pun mungkin kau juga begitu :
Kita lebih baik begini. Tetap bersama, tetap ada. Tanpa jaring apa-apa.
Aku tetap wanita, mudah tersulut emosi dan tak pandai menahan air mata. Berkata, “Iya, tak apa” berarti mengembalikan kunci hatimu ke tempat semula. Sama sakitnya dengan berkemas dan pergi saat aku masih benar-benar cinta. Dengan selimut menutupi tubuh bagian atas, kubangkitkan badanku. Kupandangi dalam-dalam matamu, mencari kesungguhan di situ.
Tanganmu menarik lenganku, seakan jadi isyarat untuk menyuruhku kembali berbaring di lengan atasmu. Kau tahu pasti bahwa aku tak akan menolak keinginanmu. Tapi juga cukup mengerti bahwa itu artinya semalam suntuk kau harus menghadapi tangisku.
Sempat seucap kata pergi kembali meluncur ke udara. Kau bilang tak ingin aku tiada. Bibirku mengoceh bilang ia perlu ada. Namun hatiku, sesungguhnya, tak ingin aroma nafasmu hilang dari udara. Oh Tuhan, berapa banyak kau ciptakan bentuk cinta?
Sayang, jika cinta memang merelakan yang dikasihi mendapat perhatian dan kasih sebaik-baiknya ; maka kuangkat topi untuk semua novel dan film picisan di luar sana.Dulu kucibir mereka, namun kini aku tahu bagaimana rasanya.
Aku tak akan keberatan saat tahu kau menyandingnya yang menangkupkan tangan pada langit yang sama. Betapa mudah kulepas kekhawatiran kecilku soal kebersihan kamarmu, perkara kenyangnya perutmu — saat kau dapat wanita yang bijak mengurusmu.
Kamu ada, bersama wanita yang tepat, itu cukup bagiku. Sedihkah aku? Ya, tentu saja. Tapi cintaku padamu tak boleh melebihi cintaku padaNya, bukan? Inilah satu-satunya jalan mendamaikan gejolak hati tak berkesudahan.
Ayo, kita tidur saja”, ucapmu sambil melingkarkan lengan di perutku. Argumen dan drama dini hari terhenti di situ.

Demi malam saat kusebut kau dalam doa-doa panjang

Dalam desau sehalus perdu aku tetap mendoakanmu
Dalam desau sehalus perdu aku tetap mendoakanmu via galleryhip.com
Hampir 5 bulan berlalu sejak dunia menetapkan batas akhir atas kekitaan yang kita punya. Terkadang ada rasa perih menghampiri ketika kusadar tak akan lagi menemukan kelakarmu di akhir hari yang panjang. Saat bukan lagi kamu yang bisa kuhampiri untuk kemudian berdua mencari makan malam.
Tapi kau tahu bukan? Dalam desau sehalus perdu aku terus mendoakanmu.
Tetap, mendoakanmu. Supaya tiap pagimu tak pilu, semoga kau tak terlalu sering keluar tanpa menenggak minum dulu. Agar harimu hangat dan mudah. Dan kau tak malas memasang jas hujan demi tak basah. Untuk perempuan selanjutnya yang kau temui. Semoga kalian bisa berdoa dengan satu cara pasti. Tak sendiri-sendiri.
Waktu kau membuka pagar, mengelap keringat dengan satu tangan, kemudian berjalan tanpa helm. Ingatlah selalu.
Ada doaku, terselip di situ.
Mungkin di sela kantung jaketmu.
Atau dalam sobekan jok motormu.
Tak pernah jauh-jauh, ia disitu.


Tuhan baik, Tuhan-mu tahu, Tuhan ku pasti mengerti. Mereka sedang mengatur jalan terindah bagi dua hambanya yang tak bisa berdampingan, namun bukan berarti harus saling meninggalkan.

(Pagi berikutnya, mataku bengkak. Semoga ikhlas juga turut membengkak)

Cinta Bukan Garam Penyedap Rasa, Perlakukan Dia Sebagai Kata Kerja


Cinta adalah rasa paling kuat yang bisa dialami manusia. Energi dari perasaan ini bisa membuat seseorang melakukan apa saja, mulai dari hal manis sampai perbuatan-perbuatan konyol dan bodoh. Terlebih saat kamu merasakan trance dari energi cinta pada lawan jenis — kuatnya perasaan yang kamu alami bisa mengubah dan mempengaruhi hidupmu lewat berbagai cara.
Pernahkah kamu bertanya, apakah selama ini kamu sudah jadi pecinta yang baik? Atau justru kamu masih memperlakukan cinta sebagai kata benda yang hanya membuatmu jadi seorang peminta yang handal?


1. Selama Ini, Kita Sering Memandang Cinta “Hanya” Sebagai Kata Benda

Kita kerap merasa bisa kehilangan cinta
Kita kerap merasa bisa kehilangan cinta via weheartit.com
“Cintaku sama dia udah hilang gak tau kemana.”
Pernyataan macam ini kerap kita dengar, dan bahkan tak jarang kita ungkapkan sendiri — saat dihadapkan pada berbagai problem yang berkaitan dengan perasaan. Seakan cinta adalah kapur barus yang bisa hilang setelah diletakkan di bawah tumpukan baju dalam jangka waktu lama.
Jika menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia, kamu akan menemukan “nomina” tercetak di samping kata “cinta”. Dalam aturan bahasa, cinta memang ditempatkan sebagai kata benda. Dari sudut pandang ini cinta adalah sesuatu yang “dibendakan”. Ia bisa dengan enteng dipindahtangankan ataupun dihilangkan.
Pemikiran ini membuat kita memperlakukan cinta seperti barang, bisa diberikan pun dienyahkan dari pandangan sesuka hati. Cinta seolah setara dengan jam tangan, ponsel, dan kursi yang punya masa kadaluarsa. Pemahaman bahwa cinta adalah kata benda juga bisa membuat kita merasa harus selalu diuntungkan atas kehadirannya.


2. Ketahuilah, Cinta Bukan Badut yang Selalu Bisa Membuatmu Tertawa

Cinta bukan badut yang selalu bisa membuat tertawa
Cinta bukan badut yang selalu bisa membuat tertawa viakoreanconceptweddingphotography.wordpress.com
Saat jatuh hati pada seseorang, kita memang akan merasakan kupu-kupu di dalam perut. Ada remang di tengkuk ketika tanpa sengaja bersentuhan fisik dengan dia. Sensasi menyenangkan yang muncul ketika jatuh cinta memang tak bisa tertandingi. Tubuh kita pun akhirnya mengidentikkan cinta dengan perasaan menyenangkan ini.
Padahal, cinta bukan badut yang selalu bisa membuatmu tertawa. Cinta akan datang sepaket dengan perasaan-perasaan yang tak kalah kuat lainnya. Ia akan membuatmu bahagia, sedih, khawatir, ragu-ragu, bahkan sedih. Tak jarang perasaan itu akan memberondongmu di saat bersamaan. Saat cinta datang padamu, kamu tak bisa berharap ia akan terus bisa menyuplai perasaan yang 100% sama dari waktu ke waktu.


3. Cinta Juga Bukan Garam Penyedap Rasa yang Bisa Melengkapi Sensasi yang Kurang di Lidah

Cinta juga tidak bisa menyelesaikan semua masalahmu dalam sekejap
Cinta juga tidak bisa menyelesaikan semua masalahmu dalam sekejap via ohhhoney.wordpress.com
Saat bertemu seseorang yang mencintaimu, terkadang kamu berharap dia bisa jadi solusi bagi segala permasalahan hidup yang kamu alami. Dia bisa membuatmu bahagia, tak lagi merasa sepi. Dia bisa jadi penawar bagi seluruh kepahitan hidupmu. Kalau selama ini hidupmu adalah sayur yang kurang enak, kehadirannya ibarat garam penyedap rasa yang bisa memberi sensasi pas di lidah.
Memandang pasangan sebagai orang yang bisa menggenapkan memang sah-sah saja, yang salah adalah ketika kamu menggantungkan harapan akan hidup yang lebih baik sepenuhnya padanya. Satu yang perlu kamu ingat, dia adalah manusia biasa yang hadir dengan segala kelebihan dan kekurangan. Sebaik apapun dia, akan selalu ada celah yang bisa membuatnya melakukan sesuatu yang menyakitimu.


4. Selama Ini, Dicintai Sepenuh Hati Kerap Membuat Kita Berpuas Diri

Sangat dicintai sering membuat kita berpuas diri
Sangat dicintai sering membuat kita berpuas diri via 4matted.wordpress.com
Bagaimana tidak tersanjung saat ada orang yang dengan intens memberikan perhatiannya sepanjang hari? Rasanya seperti terbang ke langit ketujuh ‘kan waktu dia memandangimu seakan kamu adalah satu-satunya orang yang berharga baginya? Kata-kata manis dan kasih sayang yang ia berikan membuatmu merasa layak dicintai, hingga terkadang merasa tak penting untuk meningkatkan kualitas diri.
“Toh apapun yang dilakukan, akan selalu ada orang yang mencintaiku dalam-dalam,” pikirmu.
Memandang cinta sebagai kata benda akan membuatmu terpaku pada apa yang pasanganmu berikan. Kamu akan merasa cepat berpuas diri dengan apa yang telah kamu miliki saat ini, menganggap bahwa cinta pasanganmu tidak akan berkurang seiring hari. Terus memandang cinta sebagai kata benda akan membuatmu haus perhatian, tanpa berusaha meningkatkan kualitas kasih yang bisa kamu berikan.
Yakin selamanya kamu layak dicintai sedalam yang pasanganmu lakukan sekarang?


5. Sepatutnya, Dicintai dan Mencintai Menimbulkan Tanggung Jawab yang Sama Besarnya

Ada tanggung jawab dari dicintai dan mencintai
Ada tanggung jawab dari dicintai dan mencintai via 4matted.wordpress.com
Memutuskan mencintai atau menerima cinta dari seseorang sepatutnya menimbulkan tanggung jawab yang sama besarnya. Cinta bukan door prize yang bisa kamu terima dan bawa pulang hanya karena keberuntungan semata. Ada konsekuensi dari setiap keputusan yang kamu lakukan atas nama cinta.
Saat memutuskan mencintai, secara tidak langsung kamu sepakat untuk memberikan segala kemampuan terbaik yang kamu miliki demi seulas senyum pasangan. Begitu pun sebaliknya. Ketika kamu memutuskan menerima cinta dari seseorang, kamu setuju untuk menerima lebih dan kurangnya ia. Menyesuaikan nilai-nilaimu dengan kelakuan anehnya.
Menemukan orang yang mencintaimu dengan sangat bukan berarti tanggung jawabmu untuk terus belajar menerima lenyap begitu saja. Kamu tidak berhak merasa jumawa karena ada orang yang mengasihimu hingga setengah gila. Justru, semakin besar cinta yang kamu terima, makin besar pulalah balasan yang harus kamu berikan.


6. Aksi Cinta Bukan Merajuk, Namun Justru Menahan Kutuk

Aksi cinta bukan merajuk
Aksi cinta bukan merajuk via www.kiasubride.com
Pernahkah kamu bertengkar dengan pasanganmu, merajuk seperti anak kecil, menyalahkannya, kemudian beralasan:
“Aku begini ‘kan karena aku sayang kamu!”
Tidak, sayang tidak sepatutnya terejawantahkan dalam tindak seperti itu. Merajuk demi mendapatkan hal yang kita inginkan adalah aksi yang hanya layak dilakukan oleh anak kecil yang menginginkan mainan, dan bukankah kita sepakat bahwa cinta tidak lagi layak diperlakukan seperti kata benda mulai sekarang?
Aksi cinta layaknya diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang menunjukkan aksi menahan diri yang kuat. Cinta adalah ketika kamu mati-matian menahan mulut saat kesal pada pasangan, agar tak keluar kata-kata yang bisa menyakitkan. Cinta sesungguhnya adalah ketika kamu memilih tak mengeluh ditengah beratnya ujian yang sedang kamu hadapi, agar pasanganmu tak makin merasa terbebani.
Saat kamu masih banyak menuntut dan terus mengutuk, pengakuanmu bahwa perasaan cinta kali ini amat kuat terasa perlu dipertanyakan ulang.


7. Bukti Cinta Bukan Rela Dipeluk, Tapi Mau Melebarkan Lengan Untuk Merengkuhnya Dalam Keadaan Paling “Buluk”

Bukti cinta adalah saat kamu bisa menerimanya dalam kondisi terburuk sekalipun
Bukti cinta adalah saat kamu bisa menerimanya dalam kondisi terburuk sekalipun viawww.kiasubride.com
Terkadang kita merasa sudah membalas cinta yang diberikan pasangan dengan membiarkan dia dekat secara fisik. Memasukkannya dalam berbagai agenda yang kita jalani, membalas pertanyaannya tentang apa yang kita lakukan tanpa henti. Apakah dengan mengimbangi perlakuannya itu berarti kita sudah benar-benar membalas cintanya?
Bukti bahwa kamu mencintai seseorang justru bukan timbul dari kerelaanmu untuk dipeluk atau saat kamu menerima sorongan kepalanya pada jarak antara lengan dan bahumu. Pembuktian kasih sesungguhnya adalah ketika kamu tak keberatan membuka lenganmu untuk menerimanya dalam keadaan paling buruk.
Saat kamu tak lagi mengindahkan apa yang bisa ia berikan, namun justru jadi orang yang mau mengorbankan apa saja demi menawarkan kenyamanan yang ia butuhkan.


8. Cinta Tidak Sekedar Kamu Temukan Lalu Selesai, Ia Butuh Dipertahankan

Cinta butuh usaha untuk bisa bertahan
Cinta butuh usaha untuk bisa bertahan via ronvoto.com
Pola pikir yang kerap menyebabkan kita tidak jadi pecinta yang baik adalah saat kita merasa bahwa akhirnya kita “menemukan” cinta. Hal ini pula yang sering dipotret dalam berbagai film dan musik yang kita dengarkan. Coba tengok beberapa lirik lagu di bawah ini:
“I finally found someone, who knocks me off my feet. I finally found the one who makes me feel complete.”
“I finally found the love of a lifetime. A love to last my whole life through…”
Dalam lirik lagu tersebut, proses menemukan cinta seakan selesai selepas seseorang bertemu dengan dia yang membuatnya genap. Cinta yang sama digambarkan akan terus melindungi mereka seumur hidup.
Kita kerap lupa bahwa menemukan cinta justru jadi awal baru bagi sebuah hubungan. Selepas kamu beruntung menemukan orang yang bisa kamu cintai dan juga mencintaimu dengan takaran serupa, masih ada kerja berat yang menanti demi mempertahankan hubungan dan membawa ikatan itu ke arah yang lebih baik.


9. Mencintai Adalah Kerja Keras Untuk Memberi Tanpa Henti

Cinta adalah proses kerja tanpa henti
Cinta adalah proses kerja tanpa henti via prologuepictures.sg
Ketika kita tidak lagi memandang cinta sebagai kata benda semata, kita akan mulai melihatnya sebagai proses bekerja dan memberi. Cinta tidak akan lagi kita tempatkan sebagai hal absurd yang selalu menawarkan keindahan. Ia akan datang sepaket dengan drama dan berbagai dinamikanya.
Mencintai dan dicintai kemudian akan kita pahami sebagai proses memberi tanpa henti. Tidak ada harapan yang layak kita gantungkan pada pasangan, kecuali kita juga telah memulainya dengan aksi yang sepadan. Tak ada lagi kemarahan yang dengan mudah kita luapkan tanpa alasan, sebab kamu akhirnya paham inti hubungan adalah bagaimana 2 orang bisa saling menjaga perasaan.


10. Memperlakukan Cinta Sebagai Kata Kerja Akan Membentukmu Jadi Pecinta yang Lebih Mawas Diri

Kini kamu bisa jadi pecinta yang lebih mawas diri
Kini kamu bisa jadi pecinta yang lebih mawas diri via andrewlovesjazzy.wordpress.com
Memahami dan melakoni cinta sebagai sebuah kata kerja akan membentukmu jadi pecinta yang tidak berbesar diri. Kamu mengerti bahwa pasanganmu bukan Santa Klaus yang selalu siap sedia dengan berbagai hadiahnya. Dia juga manusia biasa yang bisa kesal, marah, kecewa, dan membutuhkan perhatian yang minimal sama besarnya.
Memandang cinta sebagai sebentuk kata kerja akan menjadikanmu pribadi yang lebih tahu diri. Cinta bisa datang dan pergi jika tidak dirawat sepenuh hati, karena itulah kamu rela meluangkan waktu dan tenaga demi membuatnya bertahan lebih lama lagi. Menyitir kata John Mayer di salah satu liriknya yang tersohor:
“Love is a verb, it ain’t a thing. It’s not something you own, it’s not something you scream. When you show me love, I don’t need your words…”
Pasanganmu tidak membutuhkan kata-kata dan tanda diterima, tunjukkan cintamu lewat aksi penuh integritas yang sesungguhnya. Disitulah kualitas cintamu teruji.

Siap jadi pecinta yang lebih baik lagi mulai saat ini?